BI Rate Tetap 4,75%, Analis Bocorkan Strategi Pilih Saham Cuan

1 month ago 45

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026. Stabilnya BI-Rate memberikan ruang bagi investor untuk lebih fokus pada fundamental emiten ketimbang dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% menjadi sentimen yang relatif positif bagi pasar saham domestik.

Ia menyebut momentum ini seharusnya dimanfaatkan investor untuk melakukan seleksi saham secara lebih cermat. Menurutnya, di tengah kondisi suku bunga yang tetap, pasar akan lebih menghargai emiten dengan kinerja dan prospek yang solid.

"Menurut saya saham di Indonesia misalnya bagi investor detail, investor institusi, baik domestik maupun juga internasional, sebaiknya menitik beratkan kepada saham-saham yang mempunyai benar-benar solid," kata Nafan kepada Liputan6.com, Jumat (20/2/2026).

Selain itu, penetapan suku bunga memberi sinyal bahwa risiko makro relatif terkendali, sehingga perhatian pasar kembali ke kualitas kinerja perusahaan.

Ia menekankan pentingnya memilih emiten dengan laporan keuangan yang sehat, pertumbuhan laba yang konsisten, serta manajemen yang memiliki rekam jejak baik. Resume kinerja perusahaan menjadi faktor krusial untuk memastikan keberlanjutan bisnis di tengah dinamika ekonomi global.

"Kemudian saham-saham yang benar-benar menunjukkan valuasi yang menarik, dan jangan lupa untuk melihat resumennya benar-benar baik," ujarnya.

Menurutnya, saham dengan fundamental solid cenderung lebih tahan terhadap volatilitas pasar. Dalam jangka menengah hingga panjang, saham-saham seperti ini dinilai mampu memberikan potensi imbal hasil yang lebih stabil dibandingkan saham spekulatif.

Cermati Tren dan Valuasi Diskon

Selain fundamental, Nafan juga menyarankan investor untuk memperhatikan saham-saham yang menunjukkan potensi tren ritel. Artinya, ada peningkatan minat pasar yang tercermin dari pergerakan harga dan volume transaksi yang sehat.

Nafan menambahkan, valuasi menjadi faktor penting berikutnya. Saham dengan valuasi menarik atau berada pada level diskon layak untuk dicermati, terutama jika didukung oleh prospek bisnis yang tetap kuat. Kondisi ini bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor.

"Saham dengan valuasi yang menarik, alias diskon. Karena memang sejatinya saham-saham yang saya maksudkan itu sebenarnya bisa menarik untuk dicermati," pungkasnya.

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan Februari 2026 di 4,75%

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini diambil setelah melihat berbagai perkembangan dan prospek ekonomi di tingkat nasional maupun global. 

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen," ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Perry menyatakan, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan bank sentral saat ini. Khususnya pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026 dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini, dengan tetap mencermati ruang penurunan BI Rate lebih lanjut. 

"Sejalan dengan prakiraan inflasi 2026/2027 yang terkendali rendah dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, dan upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," imbuh Perry. 

Kebijakan Makroprudensia

Menurut dia, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia juga tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro growth), melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah. 

"Serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan prudensial di perbankan," kata Perry. 

Read Entire Article
Saham | Regional | Otomotif |